Kamis, 14 November 2013

Buka Jendela, Buka Mata

ini pernah diceritakan seseorang dua tahun yang lalu dan sempat membuka mata, lalu baru tadi siang, ternyata Ipeh, teman sekelas juga pernah mendengarnya, tapi dengan subjek yang berbeda.

jadi ada seorang lulusan perguruan tinggi ternama (ini mencangkup dunia, nggak hanya Indonesia) yang mendapatkan predikat pencapai nilai terbaik diantara alumnus-alumnus baru lainnya. pada hari wisudanya, si cerdas ini diberi waktu untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, yang intinya mungkin ucapan terima kasih, kesan dan pesan.

tapi nggak hanya itu yang ia sampaikan. katanya, teman-teman lain juga tidak kalah cerdas darinya, bahkan lebih cerdas! selama ia menuntut ilmu, ia mengaku bahwa dirinya hanya berkutat pada buku, buku, buku, buku, dan teori.


sementara lihatlah teman-temannya! mereka mungkin tidak selalu mendapatkan nilai tinggi, bahkan nilai standar, tapi mereka melakukan hobi mereka. mereka bermusik, fotografi, melukis, berorganisasi, bertemu banyak orang, sementara si cerdas itu? ia mengaku ia hanyalah menjadi budak dari sistem pendidikan, bukan seperti teman-temannya yang menjadi 'Bos' di kehidupan mereka masing-masing.

kini ia menyesal sebagai peraih nilai terbaik, karena mau apa dia selanjutnya, ia juga tidak tahu, karena ia belum menemukan hobinya.


hidup ini nggak hanya berisi dengan teori. dari pidato yang tentu saja nyata itu, tersadar bahwa selama ini banyak yang hingga berkeringat demi mencapai nilai tinggi, lihat anak SD-SMP-SMA, tapi apakah itu yang mereka suka?
alasan 'supaya bisa melanjutkan ke sekolah dan atau perguruan tinggi yang bagus'-lah yang menuntut hal tersebut. hingga kebanyakan pelajar tak dapat membagi waktu belajar (dengan buku dan teori blablabla) dengan waktu penyampaian hobi.


"Hidup ini cuma sekali dan itu pun sebentar sekali, maka buat hidupmu bahagia" -Manik Pramdani

*)NB: tapi bahagia disini adalah bahagia yang positif. bahagia karena hobi, bahagia yang juga membuat orang lain bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar