Kamis, 27 Oktober 2011

Pacaran? Pikir Lagi Deh!

okay, readers!!!
setelah sekian sebentar (gantian dong, masa sekian lama terus? kasian si sebentar!) akhirnya gue balik lagi!!! 

nah, kali ini gue bakal ngebahas tentang hal yang paling tenaar di kalangan para remaja, yaitu "pacaran". gue nulis ini pas gue masih smp, dan ini juga buat pelajar yang tingkatnya sejajar, diatas, dan dibawah gue. langsung aja kita ganti paragraf yuukk.... =D

gue sering denger kalo anak-anak seumuran gue udah pada main naksir-naksiran, bahkan udah ada yang pacaran! jujur aja, gue emang belum pernah pacaran, tapi gue nulis ini bukan karena gue jealous atau apa! (kalo ada yang mikir kayak gitu, masuk neraka lo! )

dan tau nggak, gue selalu geli kalo misalkan denger kayak begituan! lo bayangin aja, mereka itu masih KECIL, tapi udah kayak anak gede aja! entah mereka mau cepet tua atau apa, tapi yang jelas gue mikir kalo pacaran di usia dini tu nggak nalar!

kalo kita disuruh ngisi formulir buat anggota perpustakaan kota, di kolom pekerjaan kita bakal tulis apa? buat yang masih SD/SMP/SMA pasti ngisi "PE-LA-JAR" kan? nah, dari situ udah jelas jika pekerjaan kita itu sebagai pelajar, maka kita harusnya BELAJAR, BUKAN PACARAN! kalau kita pacaran dengan status pekerjaan pelajar, kenapa nggak lo tambahin aja di kolom pekerjaan : "PEMACAR"??

belum lama, temen gue ada yang curhat kalo dia baru putus sama cowoknya. konon katanya ya, awalnya mereka tu nggak saling suka, eh... pas putus, temen gue itu beneran suka sama maco-nya! trus gue tanya, "kenapa lo bisa putus sih?" dia jawab apa coba? "kata mantan gue itu dia masih nyimpen perasaan dan harapan yang besar sama cewek lain yang dia suka sebelum kita jadian.." aduh... JLEB banget!

gue tanya sama salah satu temen yang curhat sama gue karena broken heart ditinggal sama orang yang dia suka, "lo pacaran buat apa sih?" dia jawab, "buat fun." terus gue tanya lagi, "menurut lo, deifinisi pacaran tu apa sih?", jawaban dia apa coba? "NGGAK TAHU". terus gue batin, ini anak nggak tahu artinya, ngapain pake acara pacaran?  Gue sabar. Terus gue kasih tahu apa arti pacaran menurut gue, "pacaran itu mengenal lebih dekat, setuju?" dia setuju. trus gue tanya lagi, "kalo kita mau deket sama orang yang sejenis, kita jadiin apa dia? best friend?" lalu dia jawab. "YAIYALAH! masa jadiin pacar?" trus gue bilang, "nah, kenapa kalo cowok nggak kita jadiin best friend juga?" dia diem.


setelah beberapa saat hening, akhirnya dia bunyi, "iya juga ya?" terus gue lanjutin tanya, "kalo gitu, apa coba bedanya best friend sama pacar?" gue tunggu, nggak ada jawaban, gue lanjut, "pacaran, pasti ada putus kan? setelah putus, kita bakalan di cap BEKAS. (kalo nggak percaya, lo inget-inget aja lagunya Mikha Tambayong) beda sama best friend, kita pasti bakal dianggap spesial sama best friend kita, entah itu cewek atau pun cowok, kalo ada jadi temen, udah nggak ada MANTAN TEMEN. kalaupun ada, berarti yang buat itu dodolnya minta ampun. dan kalo kita berantem sama best friend pasti juga bakalan reda, entah seheboh apa, tapi sama pacar? kemungkinan bisa putus. dan kalau udah putus sama pacar, apalagi putus gara-gara masalah yang negatif, kita pasti bakalan males sama mantan, inget dia bikin muntah, etc. tanpa disadari, pacaran juga bisa nambah musuh, kan?"

kalo kita pacaran, kita mesti punya waktu luang buat si pacar. pasti banyak deh yang setuju! kita balik lagi dengan profesi pelajar. pelajar pekerjaannya belajar. jadi tiap hari paling enggak si pelajar harus pegang buku dan ada hal baru yang nemplok di otak. tapi karena pacaran, kita kurangi jam belajar, kita tambahkan pada 'jadwal harian' kita dengan kata pa-ca-ran. lihat aja pasangan yang pacarannya nemplok terus, yakin deh, itu paling enggak 5 hari ketemu dalam seminggu. padahal, belajar malam aja kadang-kadang kita tiga kali dalam seminggu, bahkan mungkin ada yang kurang dari itu. jadi pacaran itu merusak otak! ganggu belajar! menghambat kesuksesan


sebenernya, cukup sampai sini aja kita udah paham ruginya pacaran itu ngelilingi bumi! bahkan mungkin lebih banyak dari itu! ada cerita aneh banget :
jadi, gue pernah ngobrol bentar sama senior. topik kita pada saat itu juga pacaran. ada salah satu senior gue yang pacaran langgeng banget sampai pada saat itu. terus temennya dia bilang, "pacaran itu sebenernya dilarang agama, cuma kalau pacaran buat fun gini nggak apa-apa dek!" batin gue, "hello????? udah jelas-jelas katanya pacaran dilarang, kok masih ada kata boleh ya? yang endong siapa nih?" 


so, dari sini bagi elo-elo yang belum dicap bekas, masih mau coba-coba nih? dan elo yang udah berbekas, masih mau berapa orang lagi yang bakal ngecap elo bekas? Pikir lagi deh!

Jumat, 14 Oktober 2011

Demi Lovato's profil

hey readers!!! gue balik lagi!!!
ya, untung aja mid test ku cuma 5 hari, mulai tanggal 10 Oktober sampai 14 Oktober...
huaahhh!!! yang masih sekolah pasti ngerasain juga ya Lega banget! ujian udah selesai! dan langsung deh aku buka lappy...
well, sesuai yang aku janjiin kemarin, aku balik lagi dengan profilnya Demi Lovato. sebenernya aku mau cerita dulu asal muasal aku suka sama Demz ini, tapi kayaknya malah buat panjang, so aku putusin bakal ngeposting hal itu lain kali, dan gak usah basa basi lagi, ini dia bionya Demi Lovato

FullName : Demetria Devonne Lovato
StageName : Demi Lovato
Born : August 20th 1992, Dallas, Texas
Parents : Patrick Lovato (father)
Dianna (mother)
Siblings : Dallas Lovato (old sister)
MaDison DeLaGarza (young sister)
Profession : actris, singer, arranger, musician (guitarist, pianist)
FavoriteBand : Paramore
FavoriteFood : Cheese
FavoriteColour : red, black

career
Demi Lovato mengawali karirnya dengan beraktingdi umur 6 th, sebagai Angela pada acara tv anak “Barney and Friends”. Karenaacara itu, Demi akhirnya bertemu dengan Selena Gomez dan mereka menjadi temanbaik. Pada tahun 2006 - 2007, Demi melanjutkan karirnya dengan ikut bermain dibeberapa serial yang disiarkan Disney Chanel di tv, seperti “As the Bell Rings”, “Back To School”, dan“Sonny with A Chance”.

20 Juni 2008, Demi Lovato membintangi film“Camp Rock” sebagai Mitchie Torres. Dari film Camp Rock itulah dia bertemudengan Jonas Brother, salah satu band papan atas yang terdiri dari 3 personal(Joe, Kevin, dan Nick) yang juga membintangi Camp Rock. Karena pertemuan darifilm Camp Rock itulah Demi dan salah satu personal dari Jonas Brother (Joe)jadi 'special friend'. Jonas Brother, juga menulis beberapa lagu bersama Demiuntuk album pertamanya, “Don’t Forget”. Penghargaan pertama yang diraih oleh DemiLovato adalah Academy Award 2008 atas lagunya yang berjudul “That’s How YouKnow” sebagai soundtrack dari film “Enchanted”.

sampai sekarang, Demi Lovato ini udah ngerilis tiga buah album. album pertama yang berjudul Don't Forget dirilis tahun 2008 dan sempat bertengger di chart Billboard Hot 200 Album. ada tiga single yang dirilis dari album Don't Forget, yaitu Get Back. La La Land, dan Don't Forget. album keduanya bertittle Here We Go Again dirilis tahun 2009 dan langsung menancap ke posisi #1 Billboard Hot 200 Album chart nama di minggu pertama. single yang ngikut dirilis yakni Here We Go Again dan Remember December. dan album ketiganya dirilis tahun 2011 ini dengan judul Unbroken. album ini dirilis tepatnya sebulan setelah ultahnya yang ke-19. single yang dirilis dari album ketiga ini adalah Skyscraper dan Who's That Boy. Unbroken langsung menduduki posisi pertama dalam ITunes Amerika.

well, readers... akhirnya selesai juga aku nulis! sampai di sini dulu ya, capek banget rasanya hari ini, jadi gak begitu bersemangat! apalagi sekarang udah malem (di tempatku)... okay, sekian, sampai jumpa di posting berikutnya yah, have a nice day...

Sabtu, 08 Oktober 2011

"Tanah Eiffel untuk Ze" (bagian 4) -end-

ok then, ini dia saat yang ditunggu-tunggu! cerpen 'Tanah Eiffel untuk Ze' tamat di bagian ini!
nah, bagi kalian yang ngikutin cerita pendek ini, pasti langsung 'ploong' soalnya cerpen terpanjang ini akhirnya selesai diposting juga! well, daripada lama-lama, langsung aja, ini dia episode terakhirnya....

.....Keesokan harinya Zack pun menemui Ze. Tentu saja Ze terkejut melihat kedatangan Zack. Ze mengira bahwa Zack akan mengerjainya lagi seperti dulu. Tapi anehnya, Zack datang tanpa teman-temannya, melainkan sendiri. “Mau apa lagi kau?” tanya Ze. “Wow, tenang sedikitlah! Aku tidak akan menyirammu dengan seember air pel atau melemparimu dengan telur atau tomat.” jelas Zack dengan sedikit santai. “Lalu? Menyiramku dengan sampah?” Ze menebak dengan nada kesal. “Hahaha... kau salah! Sebenarnya lebih parah dari itu!” jelas Zack. Ze melemparkan tatapan sebal pada Zack. Tawa Zack berhenti dan hening seketika. Suasana makin sulit bagi Zack. “Aku ingin meminta maaf padamu.” kata Zack memecahkan keheningan. “Apa?” tanya Ze spontan. “Yeah, aku mengaku salah selama ini aku berbuat tidak etis padamu. Dan, pada awalnya aku berpikir bahwa orang-orang berkulit hitam sepertimu tidak sehebat dan sepandai orang-orang berkulit putih sepertiku. Itu lebih parah daripada menyirammu dengan sampah bukan?” tanya Zack sedikit bercanda. “Hahaha... yah, itu sangat sangat sangat parah!” Ze meneruskan candaan Zack. Keduanya tertawa. “Jadi...” Zack menghentikan tertawanya. “Jadi... aku memaafkanmu.” Ze melanjutkan kata-kata Zack. “Sungguh?” tanya Zack memastikan. “Iya, jika kau mau itu.” jawab Ze. “Tentu saja aku mau itu!” kata Zack. Tawa mewarnai suasana di antara mereka lagi.
Anyway, aku menyukai gaya permintaan maaf-mu itu, Zack!” kata Ze sedikit memuji. “Keren, bukan?” Zack melebih-lebihkan dirinya. “Terserah kau saja!” tanggap Ze. Dan lagi, keduanya tertawa. “Tapi, Zack...” Ze menghentikan tawanya. “Yeah?” tanggap Zack. “Mengapa kau beranggapan bahwa orang-orang berkulit hitam itu tidak sebaik orang-orang berkulit putih?” tanya Ze. “Bukannya tidak sebaik, tapi sangat buruk!” jelas Zack. Ze terkejut, tampak ia ingin marah mendengar itu, tetapi ia tak bisa. “Yah, karena berkulit hitam,  jadi aku menganggap mereka itu kotor. Dan dari beberapa sejarah, sebagian besar kaum orang berkulit hitam dijajah oleh orang berkulit putih, dari situ aku menyimpulkan bahwa betapa bodohnya orang-orang berkulit hitam. Tapi dulu dan sekarang berbeda. Dan tidak selalu orang berkulit putih itu nomor satu.” lanjut Zack. Ze mengerti sekarang. Walaupun ia sering mendengar hal itu, tetapi kali ini ia lebih mengerti karena ia mengalaminya semdiri. “Baiklah, aku mengerti.” tanggap Ze singkat. “Sekarang aku mengerti bahwa menilai orang jangan dari fisiknya. Dan jangan meremehkan orang yang memiliki fisik yang meenurut kita kurang, karena kita pasti juga punya kekurangan, baik itu dalam fisik juga atau lainnya. Ze, aku sungguh berterima kasih padamu.” Zack tersenyum pada Ze. “Jika aku tidak bertemu denganmu, maka di masa depan akan banyak orang yang sakit hatinya karena aku.” lanjut Zack. “Jika aku seorang gadis, maka aku akan menitihkan air mata sekarang!” kata Ze. Tampaknya dia terharu, tapi Zack tertawa mendengar kalimat Ze yang terakhir.
Dan sejak saat itu, Zack dan teman-temannya tidak lagi menjadikan Ze bahan tertawaan. Sebaliknya, mereka menjadi teman baik. Begitu juga dengan Susan. Hari-hari mereka kini dipenuhi dengan berbagai keceriaan sebagaimana kehidupan mahasiswa. Yeah, hidup menjadi indah jika kita menerima teman apa adanya.
TAMAT

akhirnyee... selesai juga!!! 
aku juga udah lega, soalnya udah bosen posting cerpen ini muluk! :p
oiya, der! ada berita buruk! berhubung besok itu aku ada mid semester test, mungkin aku bakal vakum dulu deh, mungkin sekitar seminggu! hikss....  

tapi ini cuma sementara kok... #nyanyiin aja lagunya "Budi Doremi" -cari di youtube ye?- hahaha...
jadi, sampai jumpa kembali di posting biodata Demi Lovato...
dan, der, do'ain aku bisa sukses di middle test nya yah... #banyak maunya! ><"
byeee.....

Kamis, 06 Oktober 2011

Tanah Eiffel untuk Ze (bagian 3)

i'm back!!!
aku pikir kalian bosen deh baca kata-kata yang intinya sama di awal tulisan! ya, kata 'i'm back' atau 'aku balik lagi!' atau etc. aku selalu nulis itu di awal tulisan, setelah judul. hahaha... tapi gak masalah, kan? (aku harap gak) ._.
well, sekarang aku lanjutin cerpen 'Tanah Eiffel untuk Ze' bagian 3. der, tau gak, ini dua episode terakhir lho! jadi cerpen 'Tanah Eiffel untuk Ze' bakal selesai di bagian 4. uwauwa..... pasti kalian lega dengernya! (sok tau ah!), hahaha... mungkin ini cerpen terpanjang kali ya? yaudahlah, daripada bertele-tele, langsung aja! ini dia.. cekidot :

.....“Apa? Ze kau bilang?” kata Zack terkejut. “Apa kau tidak salah? Itu sangat tidak mungkin!” lanjut Zack meragukan informasi dari Susan. “Iya, memang benar bahwa Ze masuk ke dalam kelas spesial dengan nilai terbaik.” Susan meyakinkan kembali. “Ah, aku masih tidak percaya!” tampak kekecewaan mewarnai wajah Zack. Sementara itu, di koridor sekolah tempat papan pengumuman berada terdapat daftar nama anak-anak yang masuk kelas spesial dan diantara kedua puluh nama itu di urutan pertama tertulis nama Ze. Ya, pasti itu yang menimbulkan raut kecewa Zack dan keheranan mahasiswa-mahasiswa Universitas de Paris, Sorbonne.“Ze? Bagaimana bisa?” kata itulah yang Ze dengar sepanjang minggu terakhir. Dan, keberuntungan bagi Ze, karena beberapa hari ia menjadi buah bibir maka mahasiswa-mahasiswa yang sering mengganggunya berhenti sementara, begitu juga dengan Zack dan geng-nya.
“Aku heran, mengapa Ze bisa mendapatkan nilai tertinggi dan masuk ke kelas spesial!” kata Zack di depan teman-temannya. “Apa kau iri dengannya?” tanya seorang temannya. “Kelvin, yang benar saja! Aku hanya curiga bahwa anak itu curang!” bantah Zack. “Curang? Maksudmu dia mencontek saat ujian?” tanya teman lainnya. “Yah, begitulah Chandler.” Zack membenarkan. “Hahaha….” Serentak teman-teman yang ada di depannya tertawa. “Apa yang salah?” tanya Zack. “Itu benar-benar tidak masuk akal, Zack! Aku yakin kau iri pada anak aborigin itu, kau hamya mencari-cari alasan!” kata Kelvin sedikit mengolok-olok Zack. “HEY!!!” bentak Zack tiba-tiba. Bentakkan Zack membuat tawa teman-temannya berhenti. “Zack, sudahlah, ini tidak penting, tak perlu dipikirkan sampai seserius itu!” kata Chandler. “Yah, terserah kalian mau bilang apa, tapi aku benar-benar penasaran bagaimana bisa anak itu mendapatkan tempat duduk di kelas spesial.” Zack menyatakan rasa penasarannya. “Hahaha… kau ini memang aneh, Zack! Mengapa tidak bilang saja bahwa kau sebenarnya iri dengan Ze?” kata Mortimer. “SUDAH AKU BILANG, TIDAK!!! terserah kalian mau ikut atau tidak denganku!” kata Zack dengan nada jengkel. “Ikut? Ikut apa?” tanya Pierre. “Aku ingin menyelidiki anak itu.” jawab Zack. “Hahaha… semakin lucu saja kelakuanmu itu!” tanggap Pierre tertawa. Zack hanya diam. “Baiklah, sudah kubilang terserah kalian ingin ikut atau tidak, aku bisa bertindak sendiri!” kata Zack sambil berjalan meninggalkan teman-temannya. “Tunggu, Zack! Aku ikut denganmu!” teriak seorang teman sebelum Zack melangkah jauh. “Vernon kau gila?!” kata seorang teman kepada Vernon. “Mungkin, sedikit. Tapi, mengapa tidak? Toh, akhir-akhir ini, kita juga kurang kerjaan karena Ze sudah tidak menjadi objek kita lagi.” jelas Vernon. “Yah, benar juga. Kalau begitu, aku juga ikut denganmu!” kata Kelvin. Teman-temannya yang lain terlihat sedang mempertimbangkan hal tersebut. Dan akhirnya, satu demi satu semua mahasiswa yang ada di situ setuju atas ide Zack.
Dan penyelidikan dimulai. Hari pertama mereka mengikuti Ze dari gerbang sekolah, tetapi ketika melewati gedung Fakultas Ekonomi, mereka kehilangan Ze. Hari kedua, mereka mencoba mengikuti Ze lagi, tetapi tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Hari-hari berikutnya mereka terus mengikuti tetapi tetap tidak terbukti bahwa Ze berlaku curang. Zack dan teman-temannya masih tetap tidak yakin bahwa Ze benar-benar tidak berbuat curang pada saat test kelas spesial, jadi mereka tetap menyelidiki tingkah Ze setiap detik.
Ketika ujian semester, Zack dan teman-temannya mengambil tempat duduk tepat di belakang Ze. Selama ujian, mereka terus memperhatikan Ze. Dan sulit dipercaya bahwa Ze sebenarnya tidak berbuat curang. Mereka sangat frustasi, terutama Zack. Sungguh bukan Zack namanya jika prasangkanya tidak terbukti benar. Ya, dia benar-benar malu.
Malam itu Zack sedang merenung, dia menyadari bahwa Ze berhasil masuk kelas spesial atas usahanya sendiri, Zack merasa bersalah, selama ini ia pikir anak-anak timur itu tidak sepintar anak-anak barat. Bahkan Zack sendiri belum bisa lulus ujian masuk kelas spesial. Ia merasa bahwa selama ini ia telah begitu sombong dan selalu meremehkan Ze. Akhirnya ia pun sadar dan sangat menyesal ia ingin berteman dengan Ze. Tapi, bagaimana caranya Zack mengakui kesalahannya pada Ze? Pasti dia langsung menjadi bahan tertawaan jika ia terus terang mengaku salah pada Ze. Hati Zack bimbang pada malam itu.
Keesokan harinya, Zack terlihat tidak bersemangat. “Ada apa dengannmu, Zack?” tanya seorang temannya. “Aku hanya sedang tidak bersemangat hari ini.” jawab Zack jujur. “Bahkan untuk menyelidiki Ze sekalipun?” tanya temannya lagi. “Aku pikir begitu.” jawab Zack lesu. Akhirnya hari itu penyelidikan terhadap Ze dihentikan sementara. Ternyata tak hanya teman-teman terdekatnya saja yang merasa ada hal yang aneh pada diri Zack, sebagian besar teman-temannya juga berpikir seperti itu, Susan salah satunya.
“Hey, Zack!” sapa Susan ketika melihat Zack sendiri. “Oh, kau rupanya. Ada apa?” tanya Zack tidak bersemangat. “Tidak, aku hanya ingin bertanya, ada apa denganmu hari ini? Kau terlihat tak bersemangat seperti biasanya!” kata Susan. “Memang.” jawab Zack singkat. Susan hanya merengut sebal. “Orang aneh!” tanggap Susan dan meninggalkan Zack. “Susan, tunggu!” kata Zack sedikit berteriak. “Ada apa?” tanya Susan dengan nada sebal. “Kau... gadis yang berani!” kata Zack. “Apa maksudmu?” tanya Susan tidak mengerti perkataan Zack. “Ya, kau juga baik. Kau satu-satunya orang yang berani berteman dengan Ze, tidak takut menjadi bahan ejekkan juga seperti dia.” kata-kata Zack sedikit rumit. Susan sedikit mengerti apa maksud Zack. “Apa ini artinya kau juga ingin berteman dengan Ze? Apa artinya kau akan menghentikan “penghinaan” pada Ze?” tanya Susan memastikan dugaannya. “Aku rasa... kau benar.” jawab Zack. “Tuhan, apa aku bermimpi? Zack, cubit aku!” kata Susan pada Zack. “Bodoh, kau tidak bermimpi!” kata Zack. Keduanya tertawa. “Jadi, ini yang membuatmu murung? Kau tidak tahu bagaimana kau ingin meminta maaf pada Ze?” tanya Susan. “Yeah, maka dari itu, beritahu aku!” perintah Zack. “Apa kau merasa gengsi untuk melakukannya?” tanya Susan. “Yeah, kau benar.” jawab Zack. “Astaga, mengapa kau  harus merasa seperti itu? Meminta maaf adalah perbuatan laki-laki sejati!” kata Susan. “Kau mudah bicara seperti itu!” kata Zack.

~apakah Zack akan meminta maad kepada Ze? apakah harapan Susan bisa tercapai? tapi, bagaimana jika Ze tidak memaafkan Zack?~ tunggu kisah selanjutnya hanya di MMB (manikmanikbeads) 
wkwkwk... lebay ya! ^O^

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tanah Eiffel untuk Ze (bagian 2)

hey, der...
aku balik lagi nih! maaf ya, bagi kalian yang nunggu lanjutan cerpen Tanah Eiffel untuk Ze...
habis, kemarin itu aku sibuk total! ya ulangan lah, tugas lah, lomba lah, pokoknya banyak deh! malah pulang sore terus! so aku jadinya vacum dulu deh... (gayane..) :P
langsung aja deh, ini dia lanjutan cerpennya....


.....“Tunggu, apa yang aku lakukan sekarang? Hanya diam dan memikirkan kekesalan-kekesalanku? Itu tak berguna! Benar-benar tidak berguna! Ze, kau ini begitu lucu! Bukan ini yang harus ku lakukan!”. Ia menyadari kelakuannya dan tertawa kecil. “Jika mereka melecehkanku karena kulitku berwarna gelap, itu memang mungkin dan jika aku mencoba mengubah kulitku menjadi putih….pemikikrannya berhenti sejenak, “Ah…tidak mungkin! Mana mungkin aku mengikuti cara Michael Jackson seperti itu! Itu terlalu konyol!”pikirnya sambil tertawa. “Bukankah seharusnya malam ini aku belajar untuk membuktikan pada mereka bahwa aku bisa?! dan malam itu Ze pun serius belajar.
“Test untuk masuk kelas spesial akan diadakan tiga hari lagi, diharap para murid untuk lebih giat belajar sebagai persiapan test”  terdengar suara Mr.Algernon dari speaker kelas. “Baiklah anak-anak, hari ini kelas selesai, Kalian boleh berkemas-kemas.” kata Mrs.Liana mengakhiri pelajaran. Saat Ze akan pulang, tiba-tiba di depan kelas, ia dihadang oleh Zack dan teman-temannya yang bersiap-siap melemparinya dengan telur. Tiba-tiba ada seseorang berdiri di depannya berteriak, “Tidak, jangan lakukan itu!” kata seorang gadis dengan rambut pirang. Baru pertama kali ada seseorang yang berpihak kepada Ze dan membelanya seperti itu. “Susan sedang apa kau? Minggirlah!!!” kata Zack menyuruh gadis yang ternyata bernama Susan itu minggir. “Tidak, Zack, kumohon! Pergilah biar aku yang mengurusnya!” Zack pun akhirnya pergi. “Hebat sekali dia, bisa menyingkirkan Zack dengan mudahnya. Sepertinya Zack juga tak melawan gadis ini, siapa dia?” batin Ze penasaran.
Beberapa hari setelah kejadian tadi datang dengan cepat. Dan hari itu akan diadakan test masuk kelas spesial, Ze pun mengikutinya dia telah belajar keras sejak tiga hari yang lalu. “Bagi murid-murid yang akan mengikuti test masuk kelas spesial diharap segera ke ruang test!terdengar perintah Mr.Algernon dari speaker koridor. Ze segera masuk ke ruang test, ternyata suda ada banyak orang di sana. Ze mengambil tempat duduk di sebelah Susan, gadis yang menolongnya tempo hari. Memang agak canggung rasanya duduk di sebelah seseorang yang belum kenal dekat seperti Susan bagi Ze, namun, apa boleh buat, hanya di sanalah tempat duduk yang tersisa. Tak lama, bel berdering tanda test sudah dimulai. Semua peserta test juga sudah memulai mengeerjakan soal-soal yang mereka terima. Kelas begitu tenang dan damai. Hanya goresan pena yang terdengar dari ujung kelas ke ujung kelas.
Dua jam berlalu sangat cepat. Bel juga sudah berbunyi kembali untuk yang kedua kalinya, pertanda waktu mengerjakan soal test telah usai. Ketenangan dalam kelas pun juga telah usai. Ada yang senang dan melantunkan kata, “Hore..!!!” karena waktu dua jam yang menurut mereka membosankan telah berakhir. Ada yang mengeluh, karena mereka belum selesai mengerjakan soal-soal yang mereka hadapi. Dan ada yang hanya diam saja, tak berbicara sama sekali, termasuk Ze. “Kau terlihat begitu tenang!” kata seorang gadis di sebelah Ze. “Ah, yeah, karena aku yakin aku bisa!” jawab Ze kepada gadis di sebelahnya yang ternyata Susan. “Percaya diri sekali kau! Mungkin Einstein belum tentu bisa!” sahut Susan. “Yeah, kurasa begitu!” kata Ze singkat.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ya, rencananya, hari itu akan diumumkan pengumuman siapa peraih 20 nilai tertinggi dalam test seleksi yang diadakan beberapa hari yang lalu yang akan masuk dalam kelas spesial. “Aku menduga, pasti Médeline lagi yang mendapat peringkat pertama!” celetuk seorang kepada temannya yang berjalan bersamaanya. “Yeah, aku juga menduganya. Dia-kan sudah menjadi murid terbaik lama sejak sebelum masuk ke universitas ini! Dia memang hebat!” tanggap teman yang diajak bicara tadi. Ze mendengar isu-isu yang beredar. Dia cukup takut jika ia tak diterima di kelas spesial, tetapi ia masih tenang karena masih ada 19 kursi yang bisa menampung dirinya, semoga saja. “Médeline, David, Caroline, Andrew, Pieter, Alia, Cassey, Antonio, Emma, Demetria, Joe, Kevin, Nick, Selly, Vannesa, Kelvin, ..., ..., ..., dan ...” mereka adalah 20 murid terpandai dari data negara yang paling baru, aku yakin kelas spesial akan dipenuhi mereka semua!” kata seorang guru kepada guru lain yang kebetulan lewat di depan Ze. Astaga, ternyata siapa 20 murid yang akan masuk me kelas spesial 99% sudah terpecahkan! Ze semakin gugup. Apa mungkin dia bisa mengalahkan 20 murid itu? Atau paling tidak mengalahkan 5 murid terbawah dari 20 murid yang disebutkan tadi? Itu sungguh tidak mungkin!
Pukul satu siang waktu Paris, beribu-ribu mahasiswa bergegas menuju papan pengumuman yang telah dipasang 20 murid yang beruntung yang berhasil mendapatkan kelas spesial. Tetapi tidak dengan Ze, dia sudah pupus harapan, niat dan semangatnya untuk menjadi yang terbaik tiba-tiba hilang hanya karena ia mendengar 20 nama murid terbaik dari mulut seorang guru tadi. Namun kini Ze merasa ada yang aneh. Semua memandangi Ze. Semua mahasiswa yang berasal dari arah pengumuman dipasang. “Apa lagi? Ada apa lagi mereka memandangiku seperti itu? Apa karena aku tidak melihat pengumuman itu? Mahasiswa-mahasiswa di sini benar-benar aneh!” batin Ze. “Nothing is Impossible, Ze! Aku bangga padamu!” tiba-tiba Ze dikagetkan dengan suara seorang gadis. “Susan, apa maksudmu?” tanya Ze heran. “Oh, kau belum tahu? Atau kau pura-pura tidak tahu?” tanya Susan. “Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu!” kata Ze meyakinkan Susan. “Astaga Ze, kau belum lihat pengumuman itu? Kau belum tahu bahwa kau masuk kelas spesial?” tanya Susan. “Apa kau yakin itu? Aku berhasil masuk kelas spesial? Aku benar-benar baru tahu sekarang!” kata Ze dengan nada gembira. Susan hanya tersenyum. Kemudian Ze bergegas melihat pengumuman tersebut dengan semangat. Badai mahasiswa yang membanjiri tempat pengumuman tadi telah usai, jadi Ze bisa dengan leluasa melihat pengumuman itu. Benar-benar bukan mimpi, betapa beruntungnya Ze bisa masuk kelas spesial. Dan dia mendapatkan nilai tertinggi di antara 20 murid yang ada. Peringkat satu! Bukan main senangnya dia. Menjadi peringkat 20 saja, dia sudah sangat bersyukur, tetapi ini lebih yang diharapkannya. Dan sejak detik itu juga, Ze mulai jadi buah bibir yang sering dibicarakan.
...To Be Continue...

aku lanjutin sampek sini dulu yah? masih ada lanjutannya sebenernya, tapi karena alasan di cerpen bagian pertama : "gue pengen bikin kalian penasaran" dan semoga aja bisa beneran! XD (readers : cerpen kok panjang banget! :P) wkwk... iya juga sih, di ms. word juga sampek 5 lembar tu cerpen, tapi bodo amatlah!
well... sekian, semoga mata kalian masih bisa melek setelah baca ini semua.. wkwkwk..
bye~~~