Kamis, 15 Oktober 2015

(((mistake)))

....
even to say this thing there is a doubt, whether we really want to tell or not. Yup,

(((mistake))) or, now I will write it like...

M.I.S.T.A.K.E.

see? Sometimes we really really afraid of taking a step. How if it'll be the wrong way we've ever made? What if people blame us from what we've chosen? "O.M.G. just please take me to your heaven right now!!!"

Sometimes...
We forget that, nobody's perfect. Everyone make mistakes, and so do I, even YOU.

Sometimes...
We feel matured enough to face this world, by ourself. But, when problem(s) comes, mind starts to think that it is better for us to be children under five, so we can sue, "Mommy, please help me!"

There's song that I've heard from a movie,

Mother cannot guide you.
Now you're on your own.
Only me beside you.
Still, you're not alone.
No one is alone. Truly.
No one is alone.
Sometimes people leave you.
Halfway through the wood.
Others may deceive you.
You decide whats good.
You decide alone.
But no one is alone.


Wrong things, right things
Who knows what she'd say?
Who can say what's true?
Nothings quite so clear now.


Do things, fight things,
Feel you've lost your way?
You decide, but
You are not alone
Believe me, you are not alone


You move just a finger,
Say the slightest word,
Somethings bound to linger
Be heard

No one acts alone.
Careful.
No one is alone.


People make mistakes.
Fathers,Mothers,
People make mistakes,
Holding to their own,
Thinking they're alone.

Honor their mistakes
Everybody makes
Fight for their mistakes
One another's terrible mistakes.
Witches can be right, Giants can be good.
You decide what's right you decide what's good

Just remember:
Just remember:
Someone is on your side
OUR side
Someone else is not
While we're seeing our side
Our side..

Maybe we forgot: they are not alone.
No one is alone.

Hard to see the light now.
Just don't let it go
Things will come out right now.
We can make it so.
Someone is on your side
No one is alone.
-MP

Kamis, 08 Oktober 2015

Di Dalam Lintasan Lari

from Mr. Google
Saya jadi sedikit sensitif dengan kata "bersaing" akhir-akhir ini. Tidak dipungkiri, karena saya saat ini sedang ada di kelas ujian yang nantinya juga akan berebut bangku universitas dengan ex-siswa-siswi SMA lainnya. And.... beberapa waktu yang lalu adalah hari Iedul Qurban (yeay! pesta daging cyyn :)), dan saya secara tidak sengaja bertemu dengan beberapa tetangga saya yang kini juga sama-sama dalam keadaan bersaing, hanya saja... dia bersaing mendapatkan lapangan pekerjaan.


"Di Indonesia dari kecil udah ada sistem ranking sih! Ya bagus kita di tuntut untuk menjadi yang terbaik, tapi itu semua jadi membuat kita menganggap yang lain musuh," kata Mbak Ayu.

"Nah.. bener banget! Jadi lebih mementingkan ego masing-masing," kataku.

"Nah, iya. Ada temen deketku, yang sekarang masih sama-sama cari kerja. Tapi aku rasa dia udah anggap aku jadi saingannya. Aku kasih info, dia enggak. Begitu aku dateng ke suatu tempat pelamaran kerja, eh udah nongol aja dia,"

"Iya, aku juga ngerasa gitu sih, temen-temenku yang kepingin jurusan yang sama itu, rasanya jadi memandang aku bukan pure temannya, padahal yaaa orang itu juga lebih pinter dari aku,"

"Anggap aja kita ini lagi lomba lari, kadang, kita justru lupa kalo kita bisa menikmati larinya. Kita malah terlalu fokus sama temen di samping, terlalu fokus sama garis finish kita."

"Iya, jadi ada sifat menangan gitu, Mbak!!!"

"Iya, padahal kita bisa ngerasain angin, ngerasain jalannya, ngeliat pemandangan di sekitar...."


Keliatan ya, aye cuma bisa bilang "iya.. iyaa..." aja?! Wkwkwkwk... But, it was an interesting conversation anyway. Kadang kita justru lupa bahwa dalam menjalani passion, jadi pemenang hanyalah bonus. Jalani, yaa jalani aja! Nikmati aja :)

Sebenernya mau nulis banyak tentang ini, but I think it'll just wasting your time to read it. I know you will know everything from what i've written upper. Hope it can be good starter for you to think more :)

Cheers

Kamis, 24 September 2015

The Portion II: Extrovert and Introvert

Agak intermezo sedikit, hmm... saya merasa kurang bisa mengawali post kali ini dengan baik. Hihihihi...
Yah, ada yang bilang juga, "all start are difficult" dan saya sedang merasakannya sekarang.

Saya singgung sedikit bagian pertama dari post ini, "The Portion I: Ease Brings Weep". Semua ada porsinya, antara tangis dan tawa. Kadang tawa yang berlebih membuat seluruh emosi kita jadi berantakan. Ya, seringkali kita merasa bahagia karena tertawa, tetapi kebahagiaan akan tawa itu hanya akan berlangsung sebentar. Setelah itu? Emosi yang menjadi tidak stabil.
 
Sedikit saya sangkutkan dengan hal extrovert dan introvert, karena beberapa waktu lalu ada teman saya yang merasa dirinya adalah introvert sehingga ia seperti merasa tidak pantas untuk berdiskusi dengan teman-teman lainnya. "Aku itu introvert, aku jadi lebih baik kerja sendiri," katanya.

Seperti definisi introvert atau extrovert menjadi sebuah limit untuk berkembang. Padahal seharusnya tidak seperti itu, bukan? Judgement yang kita dapatkan atau yang kita simpulkan bisa menjadi gambaran seseorang itu seperti apa, tetapi jika orang itu mau merubah dirinya dengan kata lain memutarbalikkan judgement yang selama ini telah dia dapatkan, apakah itu tidak mungkin?

Nah, di sinilah menurut saya saatnya kita berlaku two faced dengan bijaksana.

Mari kita analogikan sebagai sirkulasi musim. Dalam satu tahun pasti ada musim hujan dan musim kemarau. Meski kita tahu, keduanya sungguhlah berkebalikan, tetapi apabila salah satunya menghilang apakah makhluk hidup bisa hidup dengan baik? Mungkin ada beberapa yang bisa, tetapi hanya beberapa. Sama seperti sikap extrovert dan introvert. Well, this is all about the portion anyway. Ada kalanya kita sebaiknya bersikap sebagai introvert, ada pula waktunya kita menjadi extrovert. Bahkan musim seringkali bertubrukkan, siang hari panas, malam hari dingin. Ya, kadang kedua hal yang berbeda pun dibutuhkan dalam waktu yang sama.

"Dia sekarang lagi nyoba buat jadi extrovert lho, Nik!" kata teman saya mengenai 'teman introvert' saya itu.

Sekian

Senin, 14 September 2015

The Portion I: Ease Brings Weep

I am an introvert girl actually (who always try to be an extrovert). Tidak tahulah, semacam semua detil menjadi lebih terperhatikan dewasa ini, salah satunya persoalan, "aku ini gimana sih?"

A lot of my friends know me as an extrovert one. "Kamu salah jurusan kok, Nik, harusnya kamu jadi anak IPS!" beberapa berkata seperti itu. But, the one that knows you well is YOU. Bahkan mungkin yang mengerti betul saya ini adalah pribadi yang serius hanyalah Mama.

Mungkin ada benarnya juga saat ini saya sedang ada di masa-masa peralihan antara anak kecil-dewasa. Yang masih di atas permukaan menghadapi masalah, sehingga tawa dan canda masih bisa untuk disertakan. But nowadays, I started to aware that resolving problem isn't as easy as turn over the hand.

Well, um, saya tidak bermaksud untuk berkata bahwa menyelesaikan suatu permasalahan tidak dibutuhkan canda tawa. No! Itu tetap dibutuhkan, tetapi ada harus ditambahkan di sini yaitu, keseriusan.

Pernah kan mendengar candaan, "bar Sabtu, Minggu, bar nangis, ngguyu"? Ternyata pepatah itu bisa dibalik: bar ngguyu, nangis.

Yang saya alami, kadang, kita lose control dalam bercanda sehingga apa yang seharusnya bisa dilakukan dalam waktu bercanda kita habis. Saya pernah mengutip sebelumnya di post "T-I-M-E" bahwa semakin lama waktu terasa semakin cepat. Entah mengapa, barangkali karena terlalu sibuk memikirkan detil kehidupan.

Tapi, disinilah saya menjadi belajar untuk membagi dan menata emosi. Kadang ya, bercanda tawa berlebihan membuat emosi kita menjadi tidak kontrol. Sehingga ketika dapat masalah misalnya, alhasil hanya keluhan tak berujung yang keluar. Padahal dengan waktu yang kita isi dengan keluhan bisa kita isi dengan berpikir untuk memutar otak untuk menemukan solusi.

"Enggak, Nik, kamu cocok banget di kelas IPA," beberapa waktu lalu saya akhirnya mendengar kalimat ini keluar dari mulut salah seorang teman saya. Akhirnya...

Karena saya pribadi merasa, akhir-akhir ini saya mulai mengeluarkan diri saya sebagai pribadi yang lebih serius. Well, ini bukan salah satu dari perencanaan hidup, tapi ini terjadi dengan sendirinya. Ketika sebuah kesadaran itu datang, untuk tidak tertawa berlebihan.

Dulu, saya dengan sangat senang hati berusaha untuk membuat orang lain bahagia dan tertawa bersama saya. It feels amazing when you can make a smile :) Akhirnya saya sering bertingkah macam-macam dan terlihat easy going kepada semua orang, perempuan maupun laki-laki. Tapi baru sekarang saya memperhatikan kesenangan saya itu: make a smile, not make a laugh.

Semakin dewasa, semakin saya tahu semua ada porsinya. Saya pernah berkata "being two faced is a kind of mature action" pada post sebelum ini, tapi tidak berlebihan juga. Tidak sampai orang lain mengenal kita sebagai 'bukan kita'.

So, Was I lying to people that had thought I'm an extrovert?

Hmm.. not at all I think. Aih, jangan anggap ini sebuah penyangkalan dan pembelaan diri, tetapi saat itu saya sedang dalam proses menuju kedewasaan (begitupun sekarang). Hanya belum tahu porsinya saja. Saya yakin semua orang pasti akan melakukan hal yang sama.

*To Be Continue

Jumat, 24 Juli 2015

Young Adult


Sebenarnya bukan tema yang booming untuk dibicarakan. Iya, karena hari demi hari kita semua mengalami itu dan akan selalu trendy setiap saat. Hanya saja setiap orang mendapatkan hal yang berbeda-beda di waktu yang berbeda pula. Iya, itu semua tergantung juga dengan masalah yang masing-masing manusia hadapi. Gampangnya, orang yang aktif di bidang seni dengan orang yang aktif di bidang olahraga pasti memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan kehidupan. Yang mereka ketahui pun juga tak sama karena latar belakang dan lingkungan yang berbeda. Sehingga itu semua mempengaruhi sikap dan tingkat kedewasaan yang berbeda pula.
Kemudian apabila si seniman dan si olahragawan bertemu untuk bekerjasama misalnya, atau sebut saja interaksi kecil-kecilan seperti mengadakan buka puasa bersama dengan kawan lama contohnya maka akan tumbuhlah konflik diantara mereka. Cepat atau lambat satu sama lain akan mengetahui pendapat mereka masing-masing berbeda dalam suatu hal dan menimbulkan suatu tanya “kok gini sih dia, yang tepat tu begini,” or something like that. Mungkin jika kita kurang berlapang dada maka akan timbul rasa sengit atau ketidaksukaan, bahkan menjauhi karena merasa tidak cocok. But, you know, jika kamu justru melakukan hal yang sebaliknya, it means mencoba menahan emosimu, coba biarkan dia berpendapat, mempertimbangkan pendapatnya meskipun di sisi lain kamu merasa bahwa jalanmu lah yang paling benar, secara tidak langsung kamu akan lebih berkembang dan menambah wawasan. Dan sikap seperti itu seringkali sulit untuk dimunculkan.
Bertanya pada saya sendiri, bahkan sampai sekarang saya masih mencoba melakukan itu. Ya, menahan emosi, mendengarkan, menghargai orang lain yang berbeda pendapat atau aliran. It’s really hard! Berulangkali berbagai konflik kehidupan yang menimpa saya mendorong dan memaksa saya untuk melakukan hal itu tetapi jujur saja saya belum bisa melakukannya dengan benar.

Salah satu hal yang perlu kita ingat adalah, tidak ada pendapat manapun yang salah. Meski kadang ada yang bilang “tidak mungkin pasti ada yang paling benar diantara yang paling benar”. But you know, nobody’s perfect. Ingat keseimbangan dalam dunia. Pasti setiap hal ada negative side dan positive side nya. So, sebenarnya kadang tidak pada tempatnya kita menyalahkan seseorang karena pasti mereka punya alasan untuk pendapatnya. Atau mengapa mereka seperti itu, karena mereka memiliki suatu latar belakang yang mendukung untuk melakukan hal itu. Belajarlah memahami untuk memaklumi. And that’s why, ada sebuah pepatah mengatakan “don’t judge by it’s cover”.

“Kita bisa mengetahui seseorang kalau orang itu sedang dalam keadaan kepepet,” kata Mama suatu hari. Ya mungkin memang benar sekali, kita bisa mengenal dan mengetahui real faced dari seseorang ketika ia sedang menghadapi masalah. Lantas begitu saya mendengar kalimat itu saya hanya sibuk mengetes bagaimana sebenarnya orang-orang di sekitar saya ketika mereka mendapatkan masalah. Hanya judging, dan menilai oh orang ini baik, orang ini jelek. Tapi ketika saya mendapat sebuah kesempatan ‘kepepet’ itu, barulah saya merasakannya. Ternyata saya pun tidak lebih baik dari mereka yang saya nilai jelek kepribadiannya. Rasanya benar-benar digampar karena selama ini saya tidak berkaca ketika saya sibuk menjudging orang-orang.

Lalu, bagaimanakah penilaian orang terhadap saya? “Kamu itu orangnya detail banget, Nik! Seriously. Sehingga apa yang belum sempat kami pikirkan udah keduluan kamu. Then, karena kamu selangkah di depan dari kami semua, kamu jadi melihat orang lain kurang memperhatikan hal tersebut. Ya padahal karena kamu sudah lebih dulu di depan. And that’s why kamu jadi melangkahi apa yang ada di atasmu.” Begitulah penilainnya beberapa orang terhadap saya. “Kamu pernah melempar saya dengan naskah kan Nik? Tapi saya diam saja karena saya tahu ada beberapa adik kelas di sekitar dan sangat tidak baik jika saya melanjutkan marah atau protes ke kamu. Padahal mungkin saja kalau saya adalah orang lain saya akan marah-marah protes dan benar-benar keluar dari tim kesenian ini.” kata seseorang yang saat itu sedang mengobrol kepada saya. “Mungkin seorang pemimpin terkadang juga harus bisa dipimpin, Nik.” Ya, saat itu juga saya benar-benar sadar saya kurang memahami semua orang, sehingga berdampak pada emosi saya. Dan, yah ternyata seperti itulah saya ketika menghadapi masalah.

Kadang koreksi diri dibutuhkan. Dengan membuang gengsi kepada orang yang pernah berpartner dalam keadaan ‘kepepet’ dengan kita. Saat itu saya memulai dengan pertanyaan, “Maaf, apa kamu selama ini merasa aku sangat tidak bisa mengontrol emosi?” Lalu beberapa teman di waktu dan tempat yang berbeda melontarkan koreksi terhadap diri saya.

Secara tidak langsung saya mendapat banyak sekali pelajaran untuk menjadi lebih dewasa. Maturity can you reach as how much experience of facing problems in your life and start to aware to take your prestige down to people. Yeah, don’t be afraid to be down to earth. Dan itu pun tergantung dengan kapan kita mendapatkannya. So, age is nothing except number. Kadang, mereka yang lebih muda justru bisa mengajari kita banyak hal so tidak ada salahnya untuk selalu mendengarkan. Well, forget about worrying your prestige once again.

Coba memahami, mendengarkan, meski barangkali kita merasa tidak nyambung dengan dia, coba setidaknya hargailah. Just being two faced, because I just understand lately bahwa being two-faced adalah salah satu sikap dewasa karena artinya pun kita bisa menempatkan diri.

Hopefully, my experience can give you something. Cheers J

Selasa, 30 Juni 2015

(really wanna) REBORN, (at least you can) RETURN

HAPPY HOLIDAY ALL!!! :) Well, mungkin nggak semuanya sudah mendapatkan liburan. But, for me, especially for the 2nd grade of high school, ini adalah hal yang rasanya kayak.. uh, akhirnya istirahat juga! You know, di kelas 11 atau 2 SMA ini sehari kayaknya gak pernah cukup untuk menjadi sehari. Seperti yang pernah saya share di post sebelumnya, in this age I finally understand what’s the meaning of ‘time is money’ is.

Segala kesibukkan sekolah, organisasi, events, everything! Apalagi di tahun itu pun gak sedikit remaja yang meraih angka 17 dalam hidupnya. I mean, gonjang-ganjing kehidupan akhirnya dirasakan karena rasa peka bermunculan dengan sangat halusnya. Well, it’s tiring (if you think over). Ya, kalau kita enggak sadar bahwa kita sedang dalam proses menuju dewasa, kita akan terlalu hanyut dalam perasaan atau sekarang yang lagi hits bahasanya adalah baper (bawa perasaan).

Karenanya, meskipun ini melelahkan saya sangat-sangat berterima kasih dengan segala peristiwa yang justru membuat saya down. Saya ingat betapa putus asanya saya ketika merasa tidak becus untuk menjadi seorang pemimpin dalam sebuah event. Ingin mencoba tegar karena menurut saya pemimpin tidak boleh memperlihatkan air matanya. Akhirnya saya bersikap sok galak dan memaksakan semuanya taat peraturan karena takut segala macam risiko datang, hingga mengorbankan kebahagiaan orang lain. Betapa egoisnya saya saat itu. Mencoba meluruskan apa yang saya rasa tidak benar, hingga melampaui orang yang seharusnya tidak semestinya saya lampaui. Astaga! Begitu banyak kesalahan-kesalahan selama ini sehingga apa yang seharusnya berjalan lurus tidak bisa hadir sesuai ekspetasi. Saya juga sempat merasa jaim (jaga image) untuk bergabung bersama kawan-kawan lain. Lalu nekat untuk melanggar peraturan sekolah, mencoba mencontek beberapa kali (karena saya tidak pernah menyontek lagi setelah kelas 4 SD, hingga akhirnya ulangan harian terakhir sungguh penasaran apa rasanya menyontek), bolos kelas, dan masih banyak kesalahan lainnya.

Kalau ditanya apakah saya merasa menyesal? Jawabannya adalah iya jelas! Rasanya ingin sekali mengulangi segalanya. But at least I get so many lesson from there. Jika itu tidak terjadi, maka belum tentu saya bisa mengerti kalau ini itu baik atau buruk. Seperti yang dikatakan Alanda Kariza dalam bukunya, Dream Catcher: let’s make our take downs to be our turning point. Entah mengapa saya suka dengan kalimat itu, karena memang benar adanya. Seringkali apa yang membuat kita drop, patah semangat, kalau kita kuat dan berani menghadapi, itu akan menjadi pondasi kita untuk lebih kuat. Yeah, everything happens in your life make you grow up!

Semua terasa melelahkan! Iya, terasa sekali belajar hidup ternyata lebih sulit dibandingkan matematika di kelas. Kendati kita sudah tahu kalau egois itu tidak baik, pelit itu tidak baik. But life isn’t just theory. Kita butuh aplikasi dari semua itu dan ketika mengaplikasikannya, merasakan ketidak-baikkan atau kebaikkannya selanjutnya kita akan mengerti betul. Dan itulah yang disebut belajar. Mengerti, dan bukannya menghafal.




Oh, dan um.. balik lagi ke liburan. Sibuknya masa-masa sebelum liburan sungguh sangat menyita waktu hingga akhirnya saya lupa kalau saya punya banyak hobi. Hahaha.. lebay! Iya memang, I’m a kind of a person who can’t leave co-working project till that project done (even if I have to sacrifice, I’ll do it). Disitulah kelebihan dan kekurangan saya. Too care, kalau kata Anggita, teman saya dari sejak SD. Karena itu saya sedang belajar untuk menjadi lebih tidak peduli saat ini and of course do my hobbies during this holiday. Balas dendam ceritanya, hehehehe...

Percaya tidak sih, kita ini punya rasa bosan? Apalagi sesuatu kita hadapi sesering mungkin, setiap hari barangkali. If you do, so do I. Ada rasa jenuh yang kemudian muncul rasa ingin mengganti kegiatan itu dengan hal baru. But someday you will do the same with your new activity then miss your old activity. Dan voila.. akhirnya kita ingin balik lagi ke kegiatan yang dulunya membosankan itu. Well, it’s like a circle, dan seperti itulah saya kepada hobi saya.

Dulu saya suka sekali menggambar. Apa saja! Meski juga jelek-jelek. Sejak sebelum TK-lalu TK-SD-SMP awal-awal. Dari hanya sekedar coret-coret asal gambar-gambar dibuku, lalu mewarnai yang keluar garis mewarnai yang mulai bisa rapi, gambar gunung-gunung-matahari-burung-sawah, orang-rumah-pohon, sekumpulan anak kecil yang main-main lalu sebagian anak ada yang kebalik balik, lalu mulai belajar kaligrafi di sekolah (karena dulu saya di SD Muhammadiyah), kemudian tipografi sederhana (yang hanya sekedar bisa), kemudian melihat teman bisa bagus sekali menggambar manga, akhirnya saya pun menggambar manga, lalu terakhir sok-sok ingin menjadi desainer karena suka dengan gaun tokoh Hermione di Harry Potter yang ke-4 saat itu dan mencoba menggambarnya. Then, done. I stopped to draw on that time.

Why? Ya karena bosan. Bayangkan, setiap bulan Mama harus membelikan 1 rim kertas HVS karena selalu habis hanya untuk coret-coret saya dan adik-adik. Tapi disamping menyesali keborosan saya, saya benar-benar kagum dengan Mama yang rela menyisihkan uang belanjanya kendati hanya berakhir menjadi coretan-coretan sampah akhirnya :’) “Tapi kan imajinasi kamu tertuang,” kata Mama ketika sempat saya tanyakan mengapa. Aaaaww!!! Thanks Mama :*

Kemudian sibuk dengan yang lain-lain hingga tibalah saatnya sekarang, I really miss that activity :( Saat saya masih duduk di bangku SMP (kelas 3 akhir) saya sempat mencoba menggambar manusia real dari foto. Emm, beberapa teman saya jadi korbannya (dan tidak ada dari mereka yang tahu kalau saya iseng menggambar mereka) ya walaupun masih jelek hehehe.. tapi saya senang mencoba hal baru itu. Dan ternyata sulit juga menggambar/melukis hal realis guys.

Semakin lama mengenal teman-teman SMA ternyata banyak juga ya yang bisa menggambar, tidak terhitung jumlahnya. Dari yang kartun, doodle, thyphograph, hingga makhluk hidup atau benda lain yang relalis yang benar-benar mirip dan bisa berwarna. Waow... I ‘m happy to know that but I still can’t do that hihihii... Lalu suatu hari saya melihat ilustrasi dress di instagram. Tidak lama sebelum liburan ini, dan spontan saya langsung ingin mencobanya, saya tertarik. I very am.

This is my re-draw from my old dress design (when I was on elementary school)


My lately illustration from some dress that I've seen from one of online shop in instagram (@quinnbee_jogja)
Mengingat dulu sekali saya sempat mencoba menggambar beberapa dress di buku (tentu saja tanpa ada ilmu desain apapun, masih ngawur) lantas saya mencari buku itu dan mencoba me-re-draw beberapa diantaranya. Dan semenjak itu hingga sekarang, I think I revert to my old hobby, and I beliave can do better :) So what about you?

Senin, 01 Juni 2015

T-I-M-E



Wah, long time no see ya! For you guys, sorry for my passiveness lately because so many activity I’ve done lately. Not so much actually, but yeah it’s because of me can’t manage time so well. Well, guys I learn so many life-lesson too on these activities include about how worth the time is! It feels like this is so not enough if there’s only 7 days a week, 24 hours a day, 60 minutes an hour, even a second run so fast. But we rarely aware about that.

Time always walk, their enjoyness threats our destiny. And sometimes is our fault for not being smart to manage them so we have to run for chasing the time. Now I still learn about how to solve that problem, how to manage the time so my activities can be done punctual. It’s not easy anyway. Moreover, on my age now we’re not rarely feel lazy to do something. Even there’s teenager word to say that: mager (males gerak/lazy to move). Oh God....

Two days ago there’s a seminar in my school from the faculty of law UGM talk about corruption. Well, don’t judge about the boring theme. I did feel the same as I said on the first time, bored. But at the end there’s a speaker from KPK (the corruption eliminate comitte) have awaken me from my homesick feeling (IDK, great people always makes me interested). Named Zainal Arifin. Then I asked about ‘mager’ feeling that usually attack teenager as me. “We can’t deny that lazy is so human. But all we all we can do, when we arrive on that spot just give your mind a believeness to get up from that position,” he said.

There’s a quote I like from the book that I’ve read,
Giving up is okay, but the story has to resume.
 
I believe all people have been stuck on the lowest layer of their life, include lazy. But remember the time is never sleep.

MP